MERENUNGKAN KEMBALI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

Dalam pengembangan karakter ,  guru harus bekerjasama dengan keluarga atau orangtua peserta didik. Posisi dan peran keluarga tidak sekedar tercatat atau formalitas, tetapi harus lebih efektif dalam bentuk kontrol terhadap pembinaan kepada peserta didik. Orang tua dan guru perlu membuat kesepakatan nilai-nilai utama apa yg perlu dibelajarkan, nilai-nilai kebaikan yang perlu dihayati dan dibiasakan dalam kehidupan peserta didik agar tercipta kehidupan yang harmonis, di sekolah, keluarga dan masyarakat. Mengutip Thomas Lickona nilai-nilai tersebut antara lain  kejujuran, kasih sayang, pengendalian diri, saling menghargai/menghormati, kerjasama, tanggunggjawab, dan ketekunan.

Demikian disampaikan Sardiman,AM,MPd,   di depan  90 peserta  Raker Guru dan Karyawan SMA Muntilan I,  Rabu (23/6) yang diselenggarakan di Wisma Pemda Boyolali, Selo.  Sebelum Raker, diawali penandatangan MOU antara Dekan FISE UNY, Sardiman AM,MPd dan Kepala Sekolah SMA  I Muntilan, Asep Sukendar,MPd. Acara yang berlangsung dua hari tersebut, juga dihadiri  Pembantu Dekan I FISE UNY, Suhadi Purwantara, MSi,  Kepala Kantor  Humas, Promosi, Protokol, Lena Satlita,MSi, Kabag FISE UNY dan staf humas FISE UNY.

Sardiman melanjutkan pendidikan karakter  di lembaga pendidikan tidak dapat ditawar lagi. Perilaku sebagian remaja dan peserta didi k yang cenderung semau gue, tidak tegur sapa, kurang hormat dan menghargai guru ataupun orang tua tidak dapat dibiarkan.Munculnya berbagai masalah ditengah kehidupan masyarakat seperti kenakalan remaja, narkoba, pelecehan seksual, indisiplin, hedonis kerusakan lingkungan, kurang menghargai karya-karya budaya bangsa, rendahnya komitmen dan jati diri bangsa, sudah  tidak dapat ditolerir lagi.

Sardiman menegaskan mandegnya pendidikan budi pekerti di sekolah tidak terlepas dari paradigma dan kebijakan serta arah pembangunan nasional di masa Orde Baru yang menitikberatkan pembangunan di bidang fisik dan ekonomi.Pertumbuha