MEDIA CETAK DI TENGAH DERASNYA PENGARUH DIGITALISASI

Tidak sedikit yang menyebutkan bahwa pengaruh digitalisasi telah membuat media digital sangat digemari bahkan keberadaan media digital ini mulai menggerus eksistensi media cetak seperti koran, majalah, tabloid, dan buletin. Lalu bagaimanakah sebenarnya peran masing-masing media dalam menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat? Apakah benar media digital ataupun media elektronik sudah benar-benar “membunuh” eksistensi media cetak? Bagaimana dengan efek negatif dari media digital yang sekarang ini dirasa menjadi momok besar di kalangan masyarakat? Hal tersebut dikupas lengkap dalam Kuliah Umum Kehumasan oleh Drs. Octo Lampito, M.Pd. di ruang Ki Hadjar Dewantara Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta (FIS UNY). Kuliah Umum Kehumasan yang diselenggarakan pada hari Kamis (27/03) tersebut diikuti puluhan mahasiswa jurusan Ilmu Administrasi Negara FIS UNY.

Octo yang merupakan Pimpinan Redaksi SKH Kedaulatan Rakyat memaparkan peran masing-masing media tersebut dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Meskipun memiliki perbedaan yang cukup signifikan, keduanya memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Selain itu, Octo juga menyampaikan manfaat yang bisa diperoleh dari media, salah satunya adalah Branding yang dapat digunakan untuk banyak keperluan seperti mendapatkan kepercayaan dari masyarakat bagi public figure (untuk kepentingan media promotion), mendapatkan penghasilan (melalui blog, iklan, atau endorse) dan lain sebagainya. Namun demikian dengan derasnya pengaruh media digital, publik harus pandai menyikapi informasi yang beredar. “Sebagai pengguna media digital, kita harus pandai dalam mengolah informasi, mengingat sekarang sudah ada Undang-Undang yang berkaitan dengan Cyber Crime (penyebar hoax, penyebar kebencian, dll) yang dapat menjerat pelaku kejahatan di dunia maya” jelasnya.

Dalam sesi tanya jawab, sebagian besar peserta bertanya tentang bagaimana upaya yang bisa dilakukan oleh media massa terkait pelaksanaan pemilu yang selalu diramaikan dengan usaha saling menjatuhkan nama lawan. Menurut Octo, media perlu mengambil langkah bijak di tengah polemik politik yang terjadi sehingga bisa meminimalisir potensi terjadinya konflik. Pada kesempatan yang sama Octo juga memberikan kiat-kiat  untuk mahasiswa agar dapat membuat  tulisan yang berbobot sehingga dapat dipublikasikan di media massa.

Wakil Dekan II FIS UNY sekaligus dosen pengampu dari Mata Kuliah Kehumasan, Lena Satlita, M.Si berharap mahasiswanya dapat memberikan feedback untuk kuliah umum tersebut. Lena menambahkan, feedback dapat berupa self-branding yang dapat dilakukan melalui media cetak maupun elektronik. (Eis/eko)